Dalam dunia Quality Assurance, testing tidak boleh dilakukan secara asal. Semua aktivitas pengujian harus terencana, terukur, dan bisa dipertanggungjawabkan. Di sinilah Test Plan memegang peran penting.
Test Plan adalah peta besar dari seluruh proses testing. Dokumen ini menjelaskan apa yang akan diuji, bagaimana cara mengujinya, siapa yang terlibat, serta kapan proses testing dianggap selesai. Tanpa test plan yang jelas, tim QA akan bekerja tanpa arah, developer kebingungan menentukan prioritas, dan product owner tidak tahu area mana yang paling berisiko.
Test Plan yang baik membuat seluruh tim berada di halaman yang sama.
Test Plan bukan hanya formalitas dokumentasi. Di dunia kerja profesional, test plan adalah alat komunikasi antara QA, developer, dan product.
Jika test plan disusun dengan baik:
Tanpa test plan, testing bisa melebar ke mana-mana dan tidak pernah benar-benar selesai.
Sebagian besar perusahaan teknologi menggunakan struktur test plan yang mirip, karena sudah terbukti efektif. Struktur yang umum dipakai adalah:
1. Scope2. Objective3. Test Strategy4. Test Environment5. Entry & Exit Criteria6. Risk
Struktur ini membantu semua pihak memahami ruang lingkup dan tujuan testing tanpa perlu membaca dokumen yang terlalu panjang.
Scope:
Fitur login,register, dan reset password di <http://nusacodes.com>
Objective:
Memastikan user dapat login dengan benar tanpa error
Dengan format seperti ini, siapa pun yang membaca langsung tahu fitur apa yang diuji dan apa tujuan utamanya. Tidak ada interpretasi ganda.
Test Strategy adalah bagian yang menjelaskan bagaimana proses testing dilakukan. Di sinilah QA Engineer menjabarkan metode dan tools yang dipakai.
Contoh test strategy yang baik:
Login page akan diuji dengan:- Manual testing- API testing menggunakan Postman- Automation testing menggunakan Selenium
Penulisan seperti ini jauh lebih efektif dibanding paragraf panjang yang penuh istilah teknis. Developer, product, dan QA sama-sama bisa memahami pendekatan testing yang dipilih.
Test strategy juga membantu menentukan jenis bug apa yang bisa terdeteksi oleh setiap metode. Manual testing biasanya fokus pada user experience, API testing fokus pada validasi backend, dan automation fokus pada stabilitas fitur saat ada perubahan kode.
Bagian test environment menjelaskan di mana testing dilakukan. Ini bisa berupa:
Informasi ini penting agar hasil testing bisa direproduksi. Jika ada bug, developer bisa mencoba ulang di environment yang sama.
Entry criteria menjelaskan kapan testing boleh dimulai. Misalnya, semua fitur login sudah selesai dikembangkan atau API sudah aktif.
Exit criteria menjelaskan kapan testing boleh dianggap selesai. Ini bagian yang sering dilupakan, padahal sangat krusial.
Contoh exit criteria yang baik:
Testing dianggap selesai jika:- Tidak ada bug dengan severity Critical- Semua test case login berstatus Passed- API login mengembalikan response 200 OK
Dengan exit criteria seperti ini, tim tidak lagi berdebat soal apakah testing sudah cukup atau belum. Semua keputusan berdasarkan data.
Bagian risk berisi potensi masalah yang bisa muncul selama testing. Misalnya API yang belum stabil, deadline yang terlalu mepet, atau keterbatasan environment.
Dengan menuliskan risiko sejak awal, tim bisa menyiapkan solusi sebelum masalah benar-benar terjadi.
Test Plan adalah fondasi dari proses QA yang profesional. Tanpa test plan, testing hanya akan menjadi aktivitas coba-coba yang sulit diukur. Dengan struktur yang rapi, test strategy yang jelas, serta exit criteria yang tegas, QA Engineer bisa memastikan bahwa aplikasi benar-benar siap digunakan oleh user.
Bagi peserta bootcamp di nusacodes.com, menguasai cara membuat test plan yang baik akan menjadi nilai tambah besar saat masuk dunia kerja sebagai QA Engineer.