Nusacodes
Kembali ke Showcase
15 September 2026 Amelinda Rahma

Final Project Bootcamp Desain Interior: Living Room "Earthy Elegance" Pendekatan Modern Mid-Century

Bootcamp Desain Interior

Final Project Bootcamp Desain Interior: Living Room "Earthy Elegance" Pendekatan Modern Mid-Century
Kunjungi

Pada Final Project Bootcamp Desain Interior, peserta mengerjakan studi kasus perancangan living room seluas 30 m² untuk pasangan muda di Jakarta. Project mengangkat konsep Modern Mid-Century dengan nuansa Earthy Elegance, dengan fokus pada ruang keluarga yang hangat, tenang, fungsional, dan tetap terasa clean.

Final project ini tidak hanya menampilkan visualisasi akhir. Peserta menyusun proses desain mulai dari membaca kebutuhan klien, menentukan arah konsep, membuat moodboard dan layout, mengembangkan model 3D, mengatur material serta pencahayaan, hingga menyiapkan detail gambar kerja dan proposal jasa desain.

Studi Kasus: Living Room untuk Pasangan Muda

Project menggunakan studi kasus klien pada bangunan baru dengan ruang berukuran sekitar 5- 6 meter atau 30 m².

Kebutuhan utama ruang adalah menyediakan area untuk:

  • Bersantai
  • Menonton televisi
  • Membaca ringan
  • Quality time bersama pasangan

Klien menginginkan suasana yang warm, calming, homey, tetapi ruang tetap rapi dan tidak dipenuhi terlalu banyak elemen.

Tantangan desainnya adalah mempertahankan visual yang clean sekaligus menyediakan fungsi penyimpanan, sirkulasi yang nyaman, penghawaan alami, dan pencahayaan hangat berlapis.

Dari studi kasus tersebut, peserta berlatih melihat bahwa interior tidak hanya berkaitan dengan pemilihan furniture dan dekorasi, tetapi juga bagaimana ruang mendukung aktivitas penghuninya.

Mengembangkan Konsep Earthy Elegance

Setelah kebutuhan klien dipahami, peserta mengembangkan Moodboard Earthy Elegance.

Konsep menggunakan kombinasi earthy tones, material alami, warna netral, aksen kayu, tanaman, serta pencahayaan lembut.

Warna netral digunakan sebagai dasar untuk menghasilkan suasana yang lebih grounded. Elemen kayu memberikan kedalaman visual, sementara tanaman digunakan sebagai aksen agar ruangan tetap terasa hidup tanpa membuat tampilannya terlalu ramai.

Arah tersebut kemudian diterapkan pada visualisasi living room melalui sofa bernuansa netral, aksen cushion berwarna earthy, furniture kayu, tanaman indoor, curtain, serta pencahayaan ambient.

Menyusun Layout Berdasarkan Aktivitas

Layout dirancang dengan area duduk sebagai pusat aktivitas dan orientasi utama menghadap TV.

Peserta tetap mempertahankan jalur sirkulasi di sekitar furniture agar ruang tidak terasa terlalu padat. Penempatan sofa, coffee table, kursi tambahan, TV area, dan elemen penyimpanan disusun dengan mempertimbangkan fungsi harian.

Kebutuhan terhadap penghawaan alami juga menjadi bagian dari pertimbangan layout.

Dari proses ini, peserta berlatih menghubungkan tiga aspek yang perlu berjalan bersama dalam desain interior: fungsi, kenyamanan, dan keseimbangan visual.

Dari Layout ke Proses 3D

Setelah layout dipilih, peserta melanjutkan project ke tahap 3D modeling.

Model ruang dibuat berdasarkan layout yang telah ditentukan. Selanjutnya dilakukan pengembangan material dan lighting untuk membangun karakter ruang sesuai moodboard.

Visualisasi akhir menampilkan living room dari beberapa sudut pandang sehingga hubungan antara sofa, TV area, jendela, furniture, tanaman, material, dan pencahayaan dapat terlihat lebih jelas.

Pendekatan lighting yang digunakan menghasilkan suasana hangat melalui kombinasi cahaya alami dan pencahayaan buatan yang lebih lembut.

Pada konteks project yang diberikan, nama software 3D atau rendering tidak dicantumkan secara spesifik. Namun workflow yang diperlihatkan mencakup pemodelan ruang, pengaturan material, lighting setup, rendering, dan penyusunan visual presentasi.

Detail dan Gambar Kerja

Project tidak berhenti pada render.

Peserta juga memasukkan bagian Detail & Gambar Kerja dalam portfolio. Bagian ini penting karena visualisasi 3D berfungsi memperlihatkan suasana ruang, sedangkan gambar kerja dibutuhkan untuk menerjemahkan desain menjadi informasi yang lebih teknis.

Pada proposal jasa yang disusun, peserta juga menjelaskan output seperti:

  • Layout dengan ukuran
  • Penempatan furniture
  • Electrical plan
  • Visualisasi 3D isometri
  • Rekomendasi material dan furniture
  • Final layout
  • Dokumen PDF

Hal ini memberi pengalaman kepada peserta bahwa seorang desainer perlu memikirkan bagaimana desain dikomunikasikan kepada klien maupun pihak yang akan mengerjakannya.

Menyusun Proposal Jasa Desain Interior

Salah satu bagian yang cukup berbeda pada final project ini adalah peserta juga menyusun proposal penawaran jasa desain interior.

Proposal dibagi menjadi tiga layanan:

Draft Package > Technical Drawing, untuk kebutuhan gambar teknis.

Form Package  Full Design, yang mencakup alternatif layout, moodboard, 3D render, rekomendasi furniture dan material, hingga final layout.

View Package  Rendering, untuk klien yang sudah memiliki layout tetapi membutuhkan visualisasi ruang.

Peserta juga memasukkan durasi pengerjaan, rentang investasi, tahapan pembayaran, kebijakan revisi, dan pekerjaan yang tidak termasuk dalam scope seperti site supervision, pembelian material, furniture, serta RAB.

Bagian ini memperkenalkan peserta pada sisi profesional desain interior: pekerjaan tidak hanya perlu dirancang, tetapi juga perlu memiliki scope, deliverables, timeline, dan batas layanan yang jelas.

Hasil Akhir Project

Hasil akhir menampilkan ruang keluarga Modern Mid-Century dengan kombinasi earthy tones, natural material, furniture kayu, tanaman, warm lighting, dan tata ruang yang berorientasi pada aktivitas santai.

Visualisasi menunjukkan beberapa perspektif ruang, termasuk area sofa dan TV, sehingga konsep yang sebelumnya disusun melalui brief dan moodboard dapat dibandingkan dengan hasil akhirnya.

Insight dan Benefit Final Project

Melalui project Living Room Earthy Elegance, peserta berlatih menjalankan proses desain interior secara lebih terstruktur: client brief, analisis kebutuhan, moodboard, layout, 3D modeling, material development, lighting, rendering, gambar kerja, hingga proposal jasa.

Insight utama dari studi kasus ini adalah bahwa ruang yang nyaman tidak hanya ditentukan oleh gaya visual. Sirkulasi, aktivitas penghuni, kebutuhan penyimpanan, material, pencahayaan, dan komunikasi dengan klien perlu dipertimbangkan sejak awal.

Final project ini juga dapat digunakan sebagai bagian dari portfolio karena menunjukkan bukan hanya hasil render, tetapi juga alur berpikir desain dan cara mengemas layanan interior secara profesional.