Nusacodes
Kembali ke Showcase
19 Oktober 2026 Airin Kristina Steven Sing

Final Project Bootcamp IT Project Management: Pengelolaan Proyek Website Brand X dengan PM Hub

Bootcamp IT Project Management

Final Project Bootcamp IT Project Management: Pengelolaan Proyek Website Brand X dengan PM Hub
Kunjungi

Pada Final Project Bootcamp IT Project Management, peserta mengerjakan studi kasus pengelolaan proyek pengembangan website Brand X. Project ini berfokus pada bagaimana kebutuhan bisnis diterjemahkan menjadi struktur kerja yang dapat dikelola oleh tim lintas fungsi, mulai dari Project Manager, Product Owner, UI/UX Designer, QA, hingga Fullstack Developer.

Peserta menggunakan Notion sebagai PM Hub untuk mengelola user story, backlog, sprint, status pekerjaan, issue log, review, retrospective, hingga dokumentasi penggunaan sistem untuk klien.

Studi Kasus Website Brand X

Brand X dirancang sebagai website produk digital yang memiliki beberapa kebutuhan utama seperti homepage, authentication, katalog layanan, pricing, checkout, user dashboard, portfolio, testimonial, FAQ, newsletter, dan contact.

Project tidak hanya membahas pembangunan halaman website, tetapi juga bagaimana masing-masing kebutuhan tersebut direncanakan, diprioritaskan, dialokasikan kepada anggota tim, dan dipantau progresnya.

Salah satu sprint goal yang ditentukan adalah menyelesaikan halaman homepage yang responsive dan siap direview oleh klien.

User story utamanya adalah membantu calon pelanggan memahami value proposition Brand X sehingga mereka tertarik untuk mendaftar.

Struktur Tim dan Pembagian Role

Project memiliki pembagian peran yang cukup jelas.

Project Manager bertindak sebagai fasilitator proyek sekaligus Scrum Master. UI/UX Designer bertanggung jawab menerjemahkan kebutuhan menjadi rancangan antarmuka. QA memastikan fungsi yang dibuat dapat berjalan sesuai kebutuhan. Fullstack Developer menjadi eksekutor sprint backlog, sedangkan Product Owner berperan sebagai pemilik produk.

Pembagian ini memberi peserta pengalaman bahwa Project Manager perlu mengoordinasikan pekerjaan beberapa fungsi yang memiliki tanggung jawab berbeda.

PM tidak menggantikan pekerjaan designer, developer, atau QA, tetapi memastikan seluruh aktivitas tersebut tetap terhubung dengan tujuan project.

Penyusunan User Story dan Product Backlog

Peserta menyusun backlog berdasarkan kebutuhan pengguna.

Beberapa user story yang dibuat antara lain calon pelanggan dapat melihat Hero Banner dan Value Proposition, pengguna dapat melakukan registrasi menggunakan email, pelanggan dapat melakukan pembayaran melalui Virtual Account atau E-Wallet, pengguna dapat melihat riwayat pembelian, serta pengunjung dapat mengakses FAQ, testimonial, blog, dan newsletter.

Selain menuliskan kebutuhan, setiap item juga memiliki status pekerjaan seperti:

  • To Do oleh Project Manager
  • Design oleh Designer
  • Coding oleh Developer
  • Need to Test oleh QA

Dengan struktur tersebut, peserta dapat melihat posisi masing-masing pekerjaan di dalam workflow project.

Prioritas dengan Pendekatan MoSCoW

Salah satu bagian penting dari project adalah menentukan prioritas fitur menggunakan kategori Must Have, Should Have, Could Have, dan Won't Have.

Fitur seperti registrasi akun, pembayaran, contact form, serta beberapa kebutuhan utama produk ditempatkan sebagai Must Have.

Pricing dan beberapa kebutuhan informasi berada pada kategori Should Have.

Search, review, dan newsletter termasuk Could Have, sedangkan blog ditempatkan sebagai Won't Have pada prioritas project saat itu.

Pendekatan tersebut membantu menjaga scope agar tim tidak menganggap semua fitur memiliki tingkat urgensi yang sama.

Perencanaan Modul Website

Backlog kemudian dikelompokkan ke sejumlah module seperti Homepage, About, Portfolio, Contact, Authentication, Services, Pricing, Checkout, User Dashboard, Search and Filter, Testimonials, Blog, FAQ, dan Newsletter.

Pembagian berdasarkan module membantu Project Manager melihat project dari level yang lebih terstruktur.

Sebagai contoh, proses authentication dapat memiliki pekerjaan berbeda dibanding Homepage atau Checkout. Dengan demikian, progress project tidak hanya dilihat sebagai satu pekerjaan besar bernama "website", tetapi sebagai kumpulan deliverable yang dapat dikelola secara lebih spesifik.

Sprint Planning dan Monitoring Progress

Project menggunakan pendekatan sprint dengan periode kerja yang telah ditentukan.

Salah satu sprint berlangsung dari 10 September hingga 23 September 2026 dengan target menghasilkan homepage responsive yang siap direview klien.

Peserta juga menyiapkan pencatatan aktivitas harian, status Done maupun To Do, serta bagian khusus untuk Sprint Review dan Retrospective.

Struktur tersebut memberikan latihan terhadap siklus kerja Scrum, mulai dari menentukan sprint goal, menjalankan backlog, memantau progress, melakukan review terhadap hasil, hingga mengevaluasi cara kerja tim melalui retrospective.

QA dan UI/UX Issue Log

Final project juga memasukkan issue tracking sebagai bagian dari pengelolaan kualitas.

Salah satu temuan UI/UX adalah tombol "Daftar" memiliki kontras warna yang terlalu rendah sehingga sulit dibaca. Issue tersebut diberi tingkat severity High.

Temuan lain adalah ukuran font pada tabel perbandingan paket harga yang terlalu kecil dan dikategorikan Low.

Issue log seperti ini membantu Project Manager dan tim melihat bahwa pekerjaan belum otomatis dianggap selesai hanya karena fitur sudah dibuat. Masih ada aspek kualitas dan usability yang perlu diperiksa sebelum hasil diberikan kepada klien.

Dokumentasi untuk Klien

Selain mengelola proses internal tim, peserta juga membuat Panduan Admin Brand X.

Dokumentasi tersebut menjelaskan cara memperbarui konten homepage, Hero Banner, visi misi, dan portfolio melalui dashboard admin.

Klien diberikan panduan mulai dari login, membuka halaman yang ingin diubah, mengganti teks, melakukan penyimpanan, hingga mengganti gambar portfolio.

Terdapat pula aturan teknis sederhana, seperti rekomendasi ukuran gambar di bawah 200 KB dan penggunaan format JPG atau WebP agar performa website tetap terjaga.

Bagian ini menjadi penting karena deliverable proyek bukan hanya source code. Klien juga membutuhkan dokumentasi agar dapat mengelola sebagian konten secara mandiri setelah project diserahkan.

Tools dan Artefak Project Management

Notion digunakan sebagai pusat pengelolaan project atau PM Hub.

Di dalamnya peserta menyusun user stories, module, sprint goal, status pekerjaan, Sprint Review, Retrospective, issue log, serta dokumentasi untuk admin.

Project ini juga menghasilkan beberapa artefak penting dalam IT Project Management seperti product backlog, prioritization, sprint tracking, role assignment, QA issue tracking, dan client documentation.

Insight dan Benefit Final Project

Melalui studi kasus Brand X, peserta berlatih mengelola project website bukan hanya dari sisi timeline, tetapi juga dari sisi scope, prioritas, role, kualitas, dan komunikasi dengan klien.

Peserta belajar bahwa user story perlu diterjemahkan menjadi pekerjaan yang jelas, backlog harus diprioritaskan, sprint membutuhkan tujuan yang spesifik, dan hasil development tetap perlu melewati proses QA serta review.

Final project ini juga menunjukkan pentingnya dokumentasi setelah implementasi. Website yang selesai dikembangkan tetap membutuhkan panduan agar pihak klien dapat melakukan update konten tanpa selalu bergantung kepada developer.

Hasil project dapat digunakan sebagai bagian dari portfolio untuk menunjukkan pengalaman dalam IT Project Planning, Scrum, backlog management, prioritization, sprint management, issue tracking, QA coordination, serta client handover documentation.