Pada Final Project Bootcamp Desain Interior, peserta mengerjakan studi kasus perancangan kamar tidur berukuran 3 à 4 meter atau 12 m². Project ini mengangkat konsep Modern Korean Style dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada tampilan visual, tetapi juga pada fungsi ruang, kebutuhan penyimpanan, pencahayaan, pemilihan material, hingga visualisasi 3D.
Melalui project ini, peserta menjalankan proses desain secara bertahap mulai dari memahami brief klien hingga menyajikan hasil akhir dalam bentuk portfolio desain interior.
Studi Kasus: Kamar Tidur Minimalis dengan Banyak Kebutuhan
Studi kasus yang dikerjakan adalah kamar tidur pada bangunan baru dengan kondisi awal ruang yang masih kosong. Klien menginginkan gaya Warm Korean Minimalist dengan anggaran proyek sebesar Rp25 juta.
Tantangan utama terletak pada ukuran ruang yang terbatas. Dalam area 12 m², kamar tetap perlu mengakomodasi beberapa kebutuhan, seperti tempat tidur, wardrobe berukuran besar, meja kerja, meja rias, rak buku, penyimpanan topi, cermin full body, serta pencahayaan yang hangat.
Peserta perlu mempertimbangkan bagaimana semua fungsi tersebut dapat ditempatkan tanpa membuat sirkulasi ruang terasa sempit.
Dari tahap analisis, peserta juga mengidentifikasi beberapa potensi ruang. Keberadaan jendela dapat dimanfaatkan sebagai sumber pencahayaan alami, sementara penggunaan warna yang tenang dan konsep Korean Minimalist membantu menciptakan kesan ruang yang lebih ringan dan nyaman.
Dari Brief Klien ke Moodboard
Setelah kebutuhan ruang dipetakan, peserta mengembangkan moodboard dan konsep layout sebagai acuan desain.
Palet yang digunakan didominasi warna-warna netral dan hangat. Material serta elemen visual yang dipilih meliputi light oak wood, beige fabric, warm white wall, rattan, sheer curtain, dan aksen tanaman.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rancangan furniture dan dekorasi, seperti platform bed dengan headboard, floating dressing table, wardrobe dengan glass door, TV cabinet dengan drawer, vanity table, serta dekorasi minimal.
Pada tahap ini peserta belajar bahwa moodboard bukan sekadar kumpulan referensi visual. Moodboard menjadi dasar untuk menjaga konsistensi antara warna, material, furniture, pencahayaan, dan suasana ruang yang ingin dibangun.
Menyusun Layout dan Lighting Plan
Salah satu bagian penting dari final project adalah penyusunan layout plan.
Peserta menentukan posisi tempat tidur, lemari, meja, credenza, serta area penyimpanan dengan mempertimbangkan keterbatasan ruang dan akses pengguna. Pendekatan space-saving digunakan agar fungsi ruang tetap terpenuhi tanpa terlalu banyak furniture berdiri sendiri.
Peserta juga membuat lighting plan yang mencakup penggunaan downlight, pendant light, dan LED strip. Pencahayaan tidak hanya diposisikan sebagai kebutuhan teknis, tetapi juga sebagai bagian dari suasana desain.
Kombinasi pencahayaan alami pada siang hari dan pencahayaan warm pada malam hari digunakan untuk mendukung karakter kamar yang lebih calm dan cozy.
Detail Material dan Furniture
Final project kemudian dikembangkan hingga tahap yang lebih teknis melalui detail dan gambar kerja.
Beberapa spesifikasi material yang digunakan dalam rancangan antara lain vinyl plank oak 4 mm untuk lantai, cat dinding warna warm white, wall panel bernuansa oak, serta plafon gypsum dengan downlight.
Furniture utama juga dirancang dengan ukuran dan fungsi yang lebih spesifik, antara lain:
- Divan custom dengan storage
- Meja rias berbahan solid oak
- Built-in wardrobe sekitar 240 cm
- Nakas dengan konsep floating shelf
- Credenza dengan elemen rattan dan finishing sage
Bagian ini membantu peserta memahami hubungan antara visualisasi konsep dan kebutuhan implementasi. Sebuah desain perlu memiliki ukuran, material, fungsi, serta detail yang cukup jelas agar dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi pekerjaan interior.
Proses Visualisasi 3D
Peserta juga membuat visualisasi ruang melalui tahapan sketch, modeling, material, lighting, hingga final render.
Teknologi yang digunakan dalam project ini adalah SketchUp dan Enscape. SketchUp digunakan untuk membangun model ruang dan elemen interior, sementara Enscape digunakan untuk menghasilkan visualisasi atau render dari desain yang telah dibuat.
Hasilnya disajikan melalui beberapa sudut pandang, seperti perspective view, top view, TV area view, bird-eye perspective, dan isometric view.
Penyajian dari beberapa angle membantu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai tata ruang, hubungan antar-furniture, material, dan pencahayaan.
Hasil Akhir Project
Pada rancangan akhir, peserta menghasilkan kamar tidur dengan beberapa fokus utama: hidden storage, glass wardrobe, warm lighting, functional workspace, neutral color palette, serta penggunaan ruang yang lebih efisien.
Project juga menunjukkan bagaimana kebutuhan penyimpanan dapat diintegrasikan ke dalam furniture sehingga tidak selalu membutuhkan tambahan kabinet yang memakan ruang.
Final project ini dikerjakan dalam lingkup concept design dengan durasi yang dicantumkan selama 8 minggu.
Insight dari Final Project
Melalui studi kasus ini, peserta belajar bahwa desain interior dimulai dari memahami masalah ruang dan kebutuhan penggunanya, bukan langsung menentukan dekorasi.
Ruang yang hanya berukuran 12 m² tetap memiliki banyak variabel yang perlu dipertimbangkan: sirkulasi, ergonomi, penyimpanan, pencahayaan, material, ukuran furniture, hingga suasana yang ingin dicapai.
Final project ini juga memberikan pengalaman kepada peserta untuk menyusun sebuah project interior secara lebih lengkap, mulai dari brief dan analisis klien, moodboard, layout, lighting plan, spesifikasi material, furniture detail, gambar kerja, visualisasi 3D, hingga presentasi hasil akhir.
Dengan proses tersebut, peserta tidak hanya menghasilkan render kamar, tetapi juga memiliki contoh portfolio yang memperlihatkan alur berpikir dan proses perancangan sebuah project desain interior.