Nusacodes
Kembali ke Showcase
14 Agustus 2026 Amirotun Niswah

Final Project Bootcamp Desain Interior: Minimalist Bedroom dengan Storage Maksimal

Bootcamp Desain Interior

Final Project Bootcamp Desain Interior: Minimalist Bedroom dengan Storage Maksimal
Final Project Bootcamp Desain Interior: Minimalist Bedroom dengan Storage Maksimal tambahan Final Project Bootcamp Desain Interior: Minimalist Bedroom dengan Storage Maksimal tambahan
Kunjungi

Pada Final Project Bootcamp Desain Interior, peserta mengerjakan studi kasus perancangan kamar tidur bergaya minimalis dengan fokus pada fungsi, penyimpanan, serta pemanfaatan ruang secara maksimal.

Studi kasus yang digunakan adalah sebuah kamar residensial di Tulungagung, Indonesia, dengan luas sekitar 13,5 m². Kondisi ruang memiliki cukup banyak bukaan dan pencahayaan alami, sementara kebutuhan klien adalah menghadirkan kamar tidur yang lebih bersih, fungsional, dan memiliki storage yang cukup untuk kebutuhan keluarga.

Melalui project ini, peserta menjalankan proses desain mulai dari memahami kondisi awal ruang, mengidentifikasi kebutuhan klien, membuat model 3D, menentukan material dan warna, melakukan pengembangan desain bersama klien, membuat render, hingga menyusun detail dan gambar kerja.

Studi Kasus: Kamar dengan Banyak Bukaan

Salah satu tantangan utama dari project ini adalah kondisi ruang yang memiliki beberapa bukaan berupa jendela dan pintu.

Banyaknya bukaan memberikan keuntungan berupa pencahayaan alami, tetapi sekaligus membatasi area dinding yang dapat digunakan untuk menempatkan furniture. Peserta perlu menentukan posisi tempat tidur, meja rias, kabinet, dan area penyimpanan tanpa menutup akses maupun mengganggu bukaan yang sudah tersedia.

Klien menginginkan kamar tidur minimalis yang tetap bersih secara visual, namun mempunyai kapasitas penyimpanan yang cukup besar.

Dari kebutuhan tersebut, peserta kemudian mengembangkan konsep tata ruang yang mengintegrasikan furniture dengan fungsi storage.

Dari Kondisi Awal ke Pengembangan Konsep

Project dimulai dengan mengamati kondisi awal ruangan dan mengumpulkan kebutuhan klien.

Ruangan awal masih relatif kosong sehingga peserta memiliki ruang untuk mengembangkan konfigurasi furniture dari awal. Namun, posisi jendela dan pintu menjadi batas yang harus diperhatikan saat menentukan layout.

Peserta kemudian mulai membuat 3D model ruangan secara bertahap. Model awal memperlihatkan bentuk dasar ruang dan posisi bukaan. Setelah itu, furniture mulai dimasukkan dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Pada proses pengembangan, peserta menentukan beberapa elemen seperti:

  • Tempat tidur dengan area penyimpanan
  • Meja rias dengan cermin
  • Kabinet dan rak terbuka
  • Furniture built-in pada area tertentu
  • Storage tambahan yang menyatu dengan desain kamar
  • Elemen wall moulding sebagai bagian dari tampilan dinding

Tahapan ini memperlihatkan bahwa proses interior tidak langsung dimulai dari rendering akhir. Peserta terlebih dahulu perlu memahami ukuran ruang, struktur existing, kebutuhan aktivitas pengguna, serta area yang masih dapat dimanfaatkan.

Pengembangan Model 3D

Setelah kebutuhan dan konsep awal ditentukan, peserta mengembangkan model 3D sebagai media untuk mengevaluasi rancangan.

Model tersebut digunakan untuk melihat hubungan antara tempat tidur, meja rias, kabinet, storage, dinding, serta posisi jendela dan pintu.

Dalam project ini, peserta juga memperlihatkan proses perubahan dari ruang kosong menuju rancangan yang sudah dilengkapi furniture.

Model 3D kemudian didiskusikan dengan klien sebelum proses dilanjutkan ke tahap render dan pembuatan gambar kerja.

Proses ini memberikan pengalaman kepada peserta bahwa visualisasi 3D bukan hanya untuk menghasilkan gambar presentasi. Model 3D juga dapat menjadi alat komunikasi untuk mengevaluasi layout dan melakukan penyesuaian sebelum desain difinalisasi.

Moodboard, Warna, dan Material

Setelah layout berkembang, peserta menyusun arah visual melalui moodboard bedroom interior dengan karakter warm, calm, minimal, dan timeless.

Palet warna yang digunakan terdiri dari kombinasi warna cokelat, kayu natural, beige, serta warna terang yang lembut.

Beberapa elemen material dan tekstur yang digunakan antara lain:

Wood – Warm Natural
Kayu digunakan sebagai elemen dominan pada tempat tidur, meja rias, kabinet, serta furniture built-in.

Wall Paint – Soft Beige
Warna dinding dibuat netral sehingga dapat menjadi latar yang ringan untuk furniture kayu dan dekorasi.

Curtain – Linen Fabric
Tirai menggunakan karakter tekstur linen dengan warna yang masih berada dalam kelompok earth tone.

Sheer Curtain – Light & Airy
Sheer curtain digunakan agar pencahayaan alami tetap dapat masuk ke dalam kamar.

Peserta juga menggunakan aksen artwork minimalis, tanaman kecil, dan dekorasi sederhana agar ruangan tidak terlalu penuh.

Pencahayaan Interior

Pencahayaan menjadi bagian lain yang dikembangkan dalam project.

Peserta menggunakan beberapa jenis lighting, yaitu cove LED dengan warm white, track light sebagai accent lighting, serta LED strip untuk menciptakan ambient light.

Pencahayaan tersebut terlihat pada area plafon, meja rias, dan beberapa furniture.

Kombinasi pencahayaan alami dari jendela dengan lampu berwarna warm membantu mendukung karakter kamar yang lebih tenang dan nyaman.

Dari bagian ini, peserta belajar bahwa perencanaan lighting perlu disesuaikan dengan fungsi sekaligus suasana yang ingin dihasilkan.

Detail dan Gambar Kerja

Final project tidak berhenti pada visualisasi akhir. Peserta juga menyusun detail dan gambar kerja sebagai bagian dari dokumentasi desain.

Gambar tersebut mencakup layout ruang beserta ukuran, tampak furniture, detail meja rias dan storage, dimensi tempat tidur, serta detail dinding dengan moulding.

Tahap gambar kerja membantu peserta memahami pentingnya ukuran dan proporsi dalam desain interior.

Render dapat menunjukkan bagaimana ruangan akan terlihat, sedangkan gambar kerja membantu menjelaskan bagaimana elemen-elemen tersebut ditempatkan dan dibuat dengan ukuran yang lebih terukur.

Hasil Akhir dan Insight Project

Hasil akhir menunjukkan perubahan dari ruangan yang sebelumnya masih sederhana menjadi kamar tidur dengan pendekatan minimalis, dominasi material kayu, warna beige, pencahayaan hangat, serta furniture dengan penyimpanan terintegrasi.

Melalui final project ini, peserta mendapatkan pengalaman mengerjakan alur desain yang mencakup analisis kondisi existing, pengumpulan kebutuhan klien, pengembangan 3D model, pemilihan material, moodboard, lighting, rendering, hingga detail gambar kerja.

Insight penting dari studi kasus ini adalah bahwa ruang dengan luas terbatas tidak selalu membutuhkan lebih sedikit fungsi. Tantangannya justru terletak pada bagaimana kebutuhan tersebut dapat diorganisasi dengan lebih efisien.

Project ini juga menunjukkan bahwa desain interior bukan hanya proses membuat visual yang menarik. Peserta perlu mempertimbangkan kondisi existing, kebutuhan pengguna, ukuran furniture, area penyimpanan, pencahayaan, material, serta komunikasi desain melalui gambar kerja dan visualisasi 3D.