Nusacodes
Kembali ke Showcase
14 Agustus 2026 IKetut Wahyu Yusta Lesmana

Final Project Bootcamp Desain Interior: Perancangan Ruang Tamu Rustic Scandinavian Tropical

Bootcamp Desain Interior

Final Project Bootcamp Desain Interior: Perancangan Ruang Tamu Rustic Scandinavian Tropical
Final Project Bootcamp Desain Interior: Perancangan Ruang Tamu Rustic Scandinavian Tropical tambahan Final Project Bootcamp Desain Interior: Perancangan Ruang Tamu Rustic Scandinavian Tropical tambahan
Kunjungi

Pada Final Project Bootcamp Desain Interior, peserta mengerjakan studi kasus perancangan ruang tamu dengan konsep Rustic Scandinavian Tropical. Project ini disusun dalam bentuk proposal interior yang mencakup pengembangan konsep, moodboard, material board, pemilihan furniture, pencahayaan, visualisasi 3D, detail material, hingga penyajian hasil akhir.

Melalui project ini, peserta berlatih mengembangkan sebuah konsep interior secara lebih terstruktur, mulai dari menentukan karakter ruang sampai menerjemahkannya menjadi rancangan visual yang dapat dipresentasikan kepada klien.

Studi Kasus: Ruang Tamu Natural, Hangat, dan Timeless

Studi kasus yang digunakan adalah perancangan ruang tamu untuk klien di Indramayu. Konsep utama yang dikembangkan adalah Rustic Scandinavian Tropical, yaitu perpaduan material alami, warna organik, suasana hangat, dan bentuk interior yang relatif sederhana.

Arah desainnya adalah menciptakan ruang tamu yang terasa natural dan nyaman tanpa terlalu banyak elemen dekoratif. Karena itu, peserta menggunakan dominasi warna cream, beige, walnut, dark brown, dan warm white.

Konsep ini kemudian diterjemahkan melalui kombinasi kayu, tekstur dinding, rotan, terrazzo, kain berwarna netral, serta pencahayaan warm.

Pengembangan Moodboard dan Material Board

Salah satu tahap utama dalam project adalah membuat moodboard dan material board.

Peserta menentukan beberapa material yang digunakan sebagai dasar rancangan, antara lain terrazzo cream matte pada lantai, finishing walnut pada elemen kayu, cat interior dengan tekstur natural, gypsum board pada plafon, serta furniture dengan kombinasi kayu dan rotan.

Material board membantu peserta melihat hubungan antar-elemen sebelum masuk lebih jauh ke tahap visualisasi. Pemilihan material tidak berdiri sendiri, tetapi perlu mendukung warna, suasana, furniture, dan karakter desain secara keseluruhan.

Selain material utama, peserta juga menentukan elemen pendukung seperti sofa, kursi rotan, coffee table, rak display, TV cabinet, dekorasi, serta ceiling fan.

Perancangan Layout dan Furniture

Konsep ruang menggunakan pendekatan layout terbuka dengan bukaan pintu lengkung sebagai salah satu elemen visual.

Area duduk disusun dengan sofa sebagai titik utama, kemudian dilengkapi kursi rotan dan coffee table. Komposisi ini membentuk area percakapan di tengah ruang sekaligus mempertahankan ruang gerak di sekitarnya.

Peserta juga mengintegrasikan fungsi penyimpanan melalui rak display dan TV cabinet. Dengan demikian, furniture tidak hanya dipilih berdasarkan bentuk visual, tetapi juga berdasarkan kebutuhan fungsi.

Beberapa furniture menggunakan material seperti multipleks 18 mm dengan HPL walnut, rotan sintetis dark brown, serta kayu solid jati atau oak pada elemen tertentu.

Dari bagian ini, peserta belajar bahwa pemilihan furniture perlu mempertimbangkan dimensi, material, fungsi penyimpanan, hubungan dengan layout, serta konsistensi terhadap konsep interior.

Pencahayaan sebagai Bagian dari Suasana Ruang

Pencahayaan menjadi salah satu komponen yang cukup terlihat dalam rancangan.

Peserta menggunakan kombinasi downlight, pendant light, wall lamp, dan LED strip warm white 3000K. Pencahayaan tersebut digunakan untuk menghasilkan suasana yang lebih hangat sekaligus memberi aksen pada beberapa area seperti rak display dan dinding.

Selain pencahayaan buatan, rancangan juga memanfaatkan cahaya alami dari bukaan besar pada sisi ruang. Cahaya yang masuk melalui area jendela atau pintu memberikan pola pencahayaan alami yang menjadi bagian dari karakter visual ruangan.

Tahap ini memberikan pemahaman bahwa lighting dalam interior tidak hanya berfungsi membuat ruangan terang. Warna cahaya, posisi lampu, serta kombinasi pencahayaan langsung dan tidak langsung dapat memengaruhi suasana ruang secara keseluruhan.

Detail dan Gambar Kerja

Project kemudian dikembangkan ke bagian detail dan gambar kerja.

Peserta mendokumentasikan beberapa spesifikasi utama, seperti penggunaan terrazzo cream matte pada lantai, texture paint bernuansa travertine pada dinding, gypsum board pada plafon, serta balok dengan wood finish walnut natural.

Detail furniture juga mencakup material multipleks HPL walnut, rotan sintetis, dan kayu solid.

Selain itu, terdapat elemen pintu lengkung yang digunakan sebagai bagian dari bahasa desain. Elemen ini memberikan transisi antar-ruang sekaligus menjadi aksen arsitektural yang tetap sesuai dengan pendekatan natural pada project.

Penyusunan detail semacam ini membantu peserta memahami bahwa sebuah visualisasi interior perlu didukung oleh informasi material dan konstruksi agar konsepnya lebih mudah dikomunikasikan.

Visualisasi 3D

Tahap berikutnya adalah membuat visualisasi 3D untuk memperlihatkan bagaimana keseluruhan konsep diterapkan dalam ruang.

Peserta menyajikan beberapa perspektif, termasuk pandangan dari atas serta perspektif utama dari area ruang tamu. Visualisasi memperlihatkan hubungan antara sofa, kursi rotan, coffee table, rak display, TV cabinet, plafon, pintu lengkung, dan pencahayaan.

Dalam proses ini, peserta menggunakan teknologi pemodelan dan rendering 3D untuk menerjemahkan konsep dua dimensi menjadi gambaran ruang yang lebih mudah dipahami.

Visualisasi 3D juga menjadi bagian penting dalam proses presentasi karena membantu menunjukkan skala, proporsi, material, pencahayaan, dan atmosfer ruang sebelum desain benar-benar diterapkan.

Hasil dan Insight dari Final Project

Hasil akhir project menunjukkan ruang tamu dengan fokus pada material natural, finishing matte, furniture bernuansa kayu dan rotan, pencahayaan warm white, serta layout yang terbuka.

Melalui studi kasus ini, peserta memperoleh pengalaman menjalankan beberapa tahapan yang saling berhubungan: menentukan konsep, memilih material, menyusun furniture, mengatur pencahayaan, membuat detail desain, hingga menyajikan visualisasi akhir.

Insight utama dari project ini adalah bahwa desain interior tidak cukup hanya terlihat menarik pada render. Setiap keputusan desain perlu memiliki hubungan dengan fungsi ruang, kenyamanan pengguna, material, pencahayaan, serta identitas konsep yang telah ditentukan sejak awal.

Final project ini juga menjadi salah satu bentuk portofolio peserta karena memperlihatkan proses desain dari konsep dan material board hingga visualisasi 3D dan hasil akhir proyek.