Pada Final Project Bootcamp Project Management, peserta mengerjakan studi kasus pengelolaan proyek pengembangan Website Everra Goods. Project ini disusun menggunakan Notion sebagai pusat dokumentasi, backlog, sprint planning, meeting notes, decision log, serta pemantauan progres pekerjaan.
Fokus project bukan hanya membuat daftar task, tetapi menyusun cara kerja tim yang lebih terstruktur menggunakan pendekatan Scrum, mulai dari pembagian peran, pengelolaan Product Backlog, perencanaan Sprint, monitoring Story Points, penanganan bug, hingga persiapan UAT dan handover.
Studi Kasus: Pengembangan Website Everra Goods
Website Everra Goods dirancang untuk memperkenalkan brand, menyampaikan nilai sustainability, menampilkan portfolio produk, serta membantu calon corporate buyer, distributor, dan partner melakukan inquiry.
Project dibagi menjadi beberapa area utama seperti:
- Homepage
- About
- Product Portfolio
- Contact
- Search
- Content Management
Setiap area memiliki tujuan yang berbeda. Homepage, misalnya, difokuskan untuk memperkenalkan Everra Goods dan mengarahkan pengunjung untuk mengeksplorasi produk atau melakukan inquiry. Sementara Product Portfolio dirancang untuk menampilkan produk sustainable untuk kebutuhan office dan travel, termasuk opsi corporate customization.
Dengan studi kasus ini, peserta belajar bahwa sebuah website dapat diperlakukan sebagai product development project yang memiliki roadmap, backlog, dependency, acceptance criteria, dan tahapan delivery yang jelas.
Menyusun Struktur Tim dan Akuntabilitas Scrum
Peserta menyusun struktur delivery yang terdiri dari 6 developer, yaitu 4 full-time, 1 part-time, dan 1 freelance.
Selain komposisi tim, peserta juga menetapkan akuntabilitas Scrum:
Product Owner bertanggung jawab menjaga visi produk, menentukan prioritas backlog, memperjelas kebutuhan bisnis, serta menerima atau menolak hasil Sprint.
Scrum Master bertugas memfasilitasi Scrum event, membantu menghilangkan blocker, menjaga fokus Sprint, dan membantu transparansi proses.
Developers bertanggung jawab mengestimasi dan mengerjakan pekerjaan Sprint, menyampaikan blocker, berkolaborasi lintas disiplin, dan menjaga kualitas sesuai Definition of Done.
Peserta juga menetapkan bahwa kapasitas tidak boleh dihitung hanya dengan menjumlahkan Story Points. Ketersediaan aktual dan bottleneck per peran seperti UI/UX, development, QA, Content/SEO, dan DevOps tetap perlu diperiksa sebelum menentukan komitmen Sprint.
Mengelola Product Backlog
Salah satu bagian utama dari final project adalah penyusunan backlog operasional Everra Goods.
Setiap item backlog dipantau berdasarkan status seperti:
- In Progress
- In Review
- Ready
- Not started
- Done
Product Owner menentukan prioritas, kemudian tim melakukan refinement sebelum suatu item masuk ke Sprint. Item juga perlu memenuhi Definition of Ready, misalnya user need jelas, expected value dipahami, Acceptance Criteria dapat diuji, dependency dan risiko sudah diidentifikasi, serta Story Points dan deadline telah ditentukan.
Peserta juga memasukkan aspek lain seperti design, analytics, SEO, privacy, dan QA sebagai bagian dari pertimbangan backlog.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa backlog bukan sekadar daftar pekerjaan. Setiap item perlu cukup siap agar dapat dikerjakan tanpa terlalu banyak ketidakjelasan ketika Sprint sudah dimulai.
Perencanaan Sprint dan Story Points
Project direncanakan dalam beberapa Sprint mulai dari discovery hingga release.
Sprint 1 â Discovery & Fondasi difokuskan pada requirement dan fondasi project tanpa user story fitur.
Sprint 2 â Design Homepage & Konten Inti memiliki 3 user story dengan total 13 Story Points, ditambah satu bug tidak terencana dengan 0 SP.
Pada status 19 Agustus 2026, progres Sprint 2 adalah:
- 5 SP Done
- 5 SP In Review/QA
- 3 SP In Progress/Need to Fix
- Total progres 5 dari 13 SP atau sekitar 38%
Salah satu user story, US-HOM-02, telah selesai setelah QA dan persetujuan Product Owner. Sementara US-HOM-01 masih berada pada tahap review dan QA, dan US-HOM-03 masih dalam proses karena terdapat perbaikan bug.
Sprint berikutnya sudah direncanakan sampai Sprint 13, dengan fokus bertahap mulai dari development homepage, kredibilitas brand, katalog produk, contact, search, error handling, performance, analytics, CMS, publishing, hingga release candidate.
Project juga memiliki Sprint 14 yang ditujukan khusus untuk final QA, UAT, deployment, handover, dan wrap-up tanpa menambahkan scope fitur baru.
Menangani Bug di Tengah Sprint
Peserta juga mengelola bug sebagai bagian dari Sprint aktif.
Salah satu contoh adalah BUG-HOM-01, yaitu masalah CTA inquiry yang gagal membuka Contact Form pada mobile Safari. Bug ini dicatat sebagai item tersendiri, dihubungkan dengan user story terkait, dan memiliki target retest.
Melalui bagian ini, peserta belajar bahwa bug tidak boleh sekadar dibicarakan di chat atau meeting. Bug perlu masuk ke sistem tracking agar status, hubungan dengan user story, dan tindak lanjutnya dapat dipantau.
Project juga menetapkan bahwa blocker harus dilaporkan pada hari kerja yang sama, bukan menunggu Sprint Review.
Kesepakatan Kerja dan Pengendalian Scope
Peserta menyusun beberapa working agreement untuk menjaga ritme kerja tim.
Salah satunya adalah scope baru tidak boleh langsung masuk ke Sprint aktif tanpa trade-off yang disepakati. Feedback baru dari klien terlebih dahulu dikonsolidasikan oleh Product Owner.
Keputusan penting dicatat dalam Decision Log, sedangkan meeting notes disimpan pada halaman Documentation dan dihubungkan ke Sprint terkait.
Peserta juga membedakan fungsi Sprint Review dan Retrospective. Sprint Review digunakan untuk mengevaluasi Increment produk, sedangkan Retrospective digunakan untuk mengevaluasi proses kerja tim.
Notion sebagai PM Hub
Tool utama final project ini adalah Notion.
Notion digunakan sebagai pusat untuk menyimpan:
- Stakeholder dan anggota tim
- Product Backlog
- Sprint Board
- Meeting Notes
- Decision Log
- Bug tracking
- Acceptance Criteria
- Definition of Ready
- Dokumentasi Sprint
Dengan satu workspace, peserta mencoba membangun sumber informasi yang dapat digunakan bersama oleh Product Owner, Scrum Master, developer, QA, dan stakeholder lainnya.
Insight dan Benefit Final Project
Melalui final project Everra Goods, peserta mendapatkan pengalaman mengelola proyek tidak hanya dari sisi timeline, tetapi juga dari sisi product delivery dan team coordination.
Peserta belajar bagaimana menentukan prioritas backlog, menggunakan Story Points secara lebih kontekstual, memperhitungkan kapasitas berdasarkan peran, mengelola bug, menjaga scope Sprint, mencatat keputusan, dan memonitor progres berdasarkan status aktual.