Nusacodes
Kembali ke Showcase
04 November 2026 Resmi Murti Gustini

Final Project Bootcamp Desain Interior: Renovasi Living Room dengan Konsep Neo Japandi

Bootcamp Desain Interior

Final Project Bootcamp Desain Interior: Renovasi Living Room dengan Konsep Neo Japandi
Final Project Bootcamp Desain Interior: Renovasi Living Room dengan Konsep Neo Japandi tambahan
Kunjungi

Pada Final Project Bootcamp Desain Interior, peserta mengerjakan studi kasus renovasi ruang tamu atau living room berukuran sekitar 3 × 5 meter dengan konsep Neo Japandi. Ruang dirancang untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang menginginkan area duduk yang nyaman, aman untuk anak kecil, tetap elegan ketika menerima tamu, serta memiliki penataan yang lebih rapi dan fungsional.

Project dikembangkan melalui beberapa tahapan, mulai dari membaca client brief, menganalisis kondisi existing, menyusun moodboard dan layout, membuat visualisasi 3D, menyiapkan gambar kerja, hingga membuat proposal jasa desain interior.

Studi Kasus dan Client Brief

Kondisi awal ruang menunjukkan beberapa permasalahan. Ruang tamu belum tertata optimal, kabel TV masih terlihat, furnitur masih terbatas, dan area sekitar 15 m² harus menampung fungsi duduk, hiburan, serta jalur sirkulasi.

Di sisi lain, terdapat beberapa potensi yang dapat dimanfaatkan, seperti jendela besar dengan pencahayaan alami, ceiling yang cukup tinggi, dinding yang siap dikembangkan, serta layout yang masih fleksibel.

Peserta kemudian menerjemahkan kebutuhan klien menjadi beberapa elemen ruang, seperti sofa minimalis, coffee table kayu, console TV, storage dan display, karpet tekstur alami, pencahayaan dekoratif, tanaman indoor, serta solusi untuk menyembunyikan kabel TV.

Menentukan Konsep Neo Japandi

Konsep yang dipilih adalah Neo Japandi dengan karakter natural, warm, elegant, dan timeless.

Palet warna menggunakan kombinasi Cream Beige, Taupe, Walnut Brown, dan Charcoal Black. Material yang digunakan dalam konsep mencakup wool bouclé, walnut wood, wood slat panel, natural stone, sheer curtain, serta tekstur kain yang lembut.

Peserta juga menentukan beberapa elemen furnitur utama seperti L-Shape Sofa berwarna beige, lounge chair dan ottoman, serta round wood coffee table sebagai focal point.

Moodboard digunakan untuk menjaga konsistensi antara warna, material, furnitur, pencahayaan, dan karakter visual ruang.

Menyusun Layout dan Sirkulasi

Pada tahap awal, peserta membuat beberapa alternatif layout sebelum menentukan denah terpilih.

Layout akhir menggunakan pendekatan open-plan dengan sofa sebagai pusat orientasi yang menghadap TV cabinet. Penataan tersebut dirancang agar jalur sirkulasi tetap cukup lega meskipun luas ruang terbatas.

Pemilihan posisi furnitur juga mempertimbangkan kebutuhan keluarga dan fungsi ruang sebagai area menerima tamu.

Dengan pendekatan ini, layout tidak hanya berfungsi untuk menentukan letak furnitur, tetapi juga menjadi dasar bagaimana aktivitas dan pergerakan pengguna terjadi di dalam ruang.

Proses Visualisasi 3D

Setelah konsep dan layout disepakati, peserta melanjutkan ke tahap visualisasi.

Proses dimulai dari perencanaan awal, pembentukan volume 3D, pemilihan material dan tekstur, pengaturan pencahayaan, hingga final rendering.

Hasil visualisasi memperlihatkan ruang tamu dengan dominasi warna warm neutral, elemen kayu, panel dinding, pencahayaan dekoratif, tanaman, karpet, dan furnitur berkarakter lembut.

Visualisasi ini membantu menunjukkan bagaimana konsep yang sebelumnya masih berupa moodboard dapat diterjemahkan menjadi gambaran ruang yang lebih realistis sebelum proses renovasi dilakukan.

Gambar Kerja untuk Implementasi

Final project tidak berhenti pada visualisasi 3D.

Peserta juga mengembangkan gambar kerja yang mencakup denah, layout, potongan vertikal dan horizontal, isometri, rencana plafon, rencana listrik, detail furnitur, hingga RAB.

Tahap ini memberikan pemahaman bahwa desain interior membutuhkan dokumentasi teknis agar hasil desain dapat diterjemahkan dengan lebih tepat oleh kontraktor maupun vendor furnitur.

Gambar kerja juga membantu menjelaskan ukuran, posisi elemen, titik listrik, dan detail lainnya yang tidak selalu terlihat melalui rendering.

Hasil Akhir Ruang

Pada hasil akhir, konsep Neo Japandi diterapkan melalui palet earth tone dan material walnut.

Beberapa kebutuhan klien seperti L-Shape Sofa, meja kopi kayu, console TV, rak display, tanaman indoor, karpet tekstur alami, dan lampu gantung diterjemahkan ke dalam desain.

Kabel TV yang sebelumnya terlihat juga disembunyikan untuk membuat area lebih rapi dan aman.

Penataan furnitur dan jalur sirkulasi dirancang agar ruang 3 × 5 meter tetap terasa cukup lapang, terang, dan efisien untuk aktivitas keluarga sekaligus representatif ketika menerima tamu.

Teknologi dan Software yang Digunakan

Dalam portfolio, peserta mencantumkan beberapa software yang digunakan dalam proses desain, yaitu SketchUp, AutoCAD, Adobe Photoshop, Canva, dan Microsoft Office.

SketchUp digunakan dalam proses pemodelan dan visualisasi 3D, sementara AutoCAD mendukung kebutuhan gambar teknis. Software visual dan presentasi digunakan untuk membantu penyusunan moodboard, portfolio, dan komunikasi desain.

Menyusun Proposal Jasa Desain

Selain portfolio desain, peserta juga membuat proposal penawaran jasa untuk studi kasus ruang yang sama.

Proposal dibagi menjadi dua pilihan utama.

Paket teknis mencakup layout terukur, jarak antar furnitur, visualisasi isometri, dan dokumen teknis untuk kontraktor. Paket lengkap mencakup konsep, moodboard, panduan material, render realistis, serta gambar teknis.

Peserta juga menyusun estimasi durasi, ketentuan pembayaran, batas revisi, dan bagian yang tidak termasuk scope seperti site visit, pembelian material, serta RAB sebagai layanan tambahan.

Bagian ini memberikan pengalaman bagaimana desain dikemas menjadi layanan yang lebih jelas bagi calon klien.

Insight dan Benefit Final Project

Melalui final project ini, peserta berlatih menjalankan workflow desain interior dari client brief, existing condition analysis, concept development, moodboard, layout, material selection, 3D visualization, technical drawing, hingga proposal jasa.

Studi kasus juga memberikan latihan dalam mengoptimalkan ruang terbatas tanpa mengabaikan kenyamanan, keamanan, estetika, dan kebutuhan penyimpanan.

Hasil akhirnya dapat digunakan sebagai bagian dari portfolio untuk menunjukkan proses desain secara lebih utuh, mulai dari memahami masalah ruang sampai menerjemahkan ide menjadi visualisasi, dokumen teknis, dan penawaran jasa kepada klien.