Nusacodes
Kembali ke Showcase
04 November 2026 Fatimah Mahfudhah

Final Project Bootcamp Desain Interior: Warm Japandi Bedroom Design

Bootcamp Desain Interior

Final Project Bootcamp Desain Interior: Warm Japandi Bedroom Design
Final Project Bootcamp Desain Interior: Warm Japandi Bedroom Design tambahan
Kunjungi

Pada Final Project Bootcamp Desain Interior, peserta mengerjakan studi kasus renovasi kamar tidur utama berukuran sekitar 24 m² di Global Mansion, Tangerang. Project dikembangkan dari kebutuhan pasangan suami istri usia 28 tahun yang membutuhkan ruang untuk beristirahat, bekerja dari rumah, menonton TV, serta area rias dengan penyimpanan yang praktis.

Peserta mengembangkan desain dengan pendekatan Warm Japandi, kemudian menerjemahkannya ke dalam layout, moodboard, material selection, visualisasi 3D, lighting plan, detail furnitur, gambar kerja, hingga proposal jasa desain.

Memahami Client Brief

Tahap awal project dimulai dari membaca kebutuhan pengguna dan kondisi ruang.

Kamar tidur berukuran sekitar 6 × 4 × 3 meter tidak hanya digunakan sebagai tempat istirahat. Ruang juga harus mendukung aktivitas WFH, hiburan, dan kebutuhan rias.

Sebagai respons terhadap brief tersebut, peserta membagi ruang menjadi tiga zona utama, yaitu Work Zone, Entertainment Zone, dan Dressing Zone. Pembagian ini dibuat agar beberapa aktivitas dapat berlangsung dalam satu kamar tanpa membuat sirkulasi terasa terlalu padat.

Pendekatan ini menjadi salah satu bagian penting dari final project karena desain interior tidak hanya berfokus pada tampilan visual, tetapi juga pada bagaimana ruang dapat digunakan sesuai kebutuhan penghuninya.

Mengembangkan Konsep Warm Japandi

Arah desain yang digunakan adalah Japandi dengan karakter warm minimalism, natural textures, dan functional storage.

Peserta menggunakan dominasi material bernuansa kayu dan warna netral. Color palette terdiri dari Oxford Brown, Bright Beige, Army Beige, dan Neutral Pearl White.

Material yang direncanakan mencakup vinyl flooring, HPL bernuansa oak, 3D wall panel, kain krem untuk elemen tekstil, serta vitrase putih. Beberapa elemen furnitur dan dekorasi juga dipilih untuk menjaga kesatuan visual ruang.

Moodboard dan material board digunakan sebagai acuan agar pemilihan warna, tekstur, furnitur, serta finishing tetap konsisten dengan konsep yang telah ditentukan.

Menyusun Layout Berdasarkan Aktivitas

Layout tidak hanya berfungsi untuk menentukan posisi furnitur, tetapi juga membagi aktivitas di dalam kamar.

Entertainment Zone ditempatkan pada area tempat tidur dan TV. Work Zone menyediakan meja untuk aktivitas bekerja, sementara Dressing Zone menyediakan area rias dan kebutuhan penyimpanan.

Peserta juga menggunakan beberapa furnitur terintegrasi seperti lemari built-in, rak buku, nakas, meja kerja, serta partisi. Strategi ini digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan penyimpanan tanpa menambah terlalu banyak furnitur lepas.

Pada visualisasi akhir, partisi kisi-kisi juga menjadi elemen pembatas yang tetap menjaga hubungan visual antararea.

Visualisasi 3D Interior

Setelah konsep dan layout ditentukan, peserta mengembangkan visualisasi 3D untuk memperlihatkan bagaimana ruang akan terlihat ketika desain diterapkan.

Visualisasi menampilkan beberapa perspective, termasuk Entertainment Zone, Work Zone, Dressing Zone, dan sudut pandang utama ruang.

Konsep Warm Japandi diterjemahkan melalui material kayu natural, warna hangat, serta pencahayaan berlapis. Tujuan visualnya adalah membangun karakter ruang yang hangat, nyaman, tenang, lapang, dan rapi.

Tahap visualisasi ini membantu menghubungkan ide yang sebelumnya masih berupa moodboard dan layout menjadi gambaran ruang yang lebih mudah dipahami.

Lighting Plan dan Gambar Kerja

Final project tidak berhenti pada hasil render.

Peserta juga menyiapkan lighting plan, 3D isometric, dan detail furniture. Beberapa elemen yang dibuat detailnya adalah lemari built-in, rak buku, nakas, serta dinding partisi.

Hal ini memberikan pengalaman kepada peserta untuk memahami perbedaan antara visualisasi desain dan dokumentasi teknis.

Render digunakan untuk mengomunikasikan suasana dan tampilan akhir kepada klien, sementara gambar kerja menjadi referensi yang lebih teknis terhadap posisi, ukuran, pencahayaan, serta detail elemen interior.

Hasil Akhir: Warm Haven

Hasil akhir project diberi konsep Warm Haven.

Desain memadukan kayu natural, warna netral, pencahayaan aksen, lemari built-in, rak display, meja kerja, area rias, dan panel kisi-kisi.

Seluruh elemen tersebut dirancang untuk mendukung kenyamanan pengguna sekaligus meningkatkan efisiensi penyimpanan dan menjaga kesatuan visual ruang.

Dengan pendekatan tersebut, kamar tidak hanya berfungsi sebagai area tidur, tetapi menjadi ruang multifungsi yang mendukung beberapa aktivitas sehari-hari.

Menyusun Proposal Jasa Desain

Selain menghasilkan portfolio desain, peserta juga membuat proposal penawaran jasa interior untuk studi kasus yang sama.

Proposal membagi layanan menjadi tiga paket, yaitu Concept Package, Visual Package, dan Complete Package.

Concept Package mencakup alternatif layout, moodboard, color palette, rekomendasi material, serta shopping list. Visual Package menambahkan pemodelan dan render 3D. Complete Package mencakup layanan lebih lengkap seperti gambar potongan, detail dinding, isometri, rencana plafon dan lantai, instalasi listrik, serta detail furnitur built-in.

Peserta juga menyusun ketentuan pembayaran, batas revisi, durasi pengerjaan, dan bagian pekerjaan yang tidak termasuk dalam scope seperti site supervision, pembelian material, furnitur, serta RAB.

Bagian ini memberikan konteks bahwa pekerjaan interior designer tidak hanya berkaitan dengan membuat desain, tetapi juga mengomunikasikan scope pekerjaan kepada calon klien.

Insight dan Benefit Final Project

Melalui final project ini, peserta berlatih menjalankan workflow desain interior mulai dari client brief, space planning, zoning, moodboard, pemilihan material, visualisasi 3D, technical drawing, hingga penyusunan proposal jasa.

Studi kasus kamar tidur juga menunjukkan tantangan dalam menggabungkan beberapa fungsi ke dalam ruang sekitar 24 m². Solusi yang digunakan adalah zoning yang jelas, furnitur terintegrasi, serta pendekatan visual yang konsisten.

Hasil akhir dapat digunakan sebagai portfolio untuk menunjukkan proses desain secara utuh, bukan hanya render akhir. Peserta dapat memperlihatkan bagaimana kebutuhan klien diterjemahkan menjadi konsep, layout, pilihan material, visualisasi, gambar teknis, dan struktur penawaran jasa desain interior.